Setelah kita pergi ngeliad Sean Kingstone, kini cerita berlanjut dengan acara jalan ke LOOP. Salah satu tempat nongkrong mahal yang ada di Surabaya. Lihat aja yang dijual, gg ada makanan Indonesia satupun. Di sana terlalu menjamur, seperti Chinese Food, Italian Food, Arabian Food, dan Europe Food. Namanya juga orang lokal, kalo ngedenger makanan luar (meski yg masak orang Indo juga) rasanya ngiler sakarepe dewe. Kali ini kita (aku, Icha, Nattaya, Nesa) memilih Arabian Food di Sahara.
Vanessa Cassera, dia anggota baru malam ini. Dia cantik, tinggi, putih, rambut panjang, poni nyamping, ada gigi nyusul (gingsul). Pokonya barang bagus banget, dan yang pasti jomblo ^^. Yang bikin hebatnya lagi, dia udah bela-belain bolos les biar bisa jalan sama saya. Aw..aw..aw..ke GR an banget saya.
Singkat cerita mulai dari jam 5 saya sudah siap menjemput mereka bertiga. Dan super..duperr..luar biasanya jam setengah 6 saya merasa ngantuk. Maklum pulang sekolah jam 3, dan kita janjian jam 6. Sopir kan juga butuh istirahat. Sekitar jam 06.12 saya tiba di Plasa Mari** menjemput Icha dan Nattaya dan dari situ kita lajut ke Margorejo Indah.
Ini ada beberapa cuplikan pembicaraan saya dengan satpam perumahan
Bhismo : Pak, mau tanya. Rumah nomer 172 dimana.?
Satpam Muda : *diam* .........
Satpam Tua : *dengan logat bijaksananya* Ya ngga ada rumah nomor segitu
Satpam Muda : *ngempet ktawa sampe giginya hampir kliatan*
Bhismo : Lohh...ngga ada ya.? Tapi rumah temen saya disini
Satpam Tua : Yaudah, namanya saja..
Bhismo : Hmm...Vanessa Casera. Yang tinggal sama oma-oma
Satpam Tua :*masih dengan logat bijaksananya* Meski saya tua, saya bukan opa-opa
Satpam Muda : *gigi kelincinya mulai mengintip*
Bhismo : Bukan bapak, tapi dia *tangan sudah mengepal siap mendarat dipipi*
Satpam Tua : Yaudah, silahkan lewat.
Satpam Muda : *kini tertawa ngelihat partner tulinya bicara*
Dan endingnya saya harus muteri perumahan itu dari sudut ke sudut, gank ke gank, dan jalan tikus sekalipun untuk mencari pemilik mobil APV.
Teknologi sekarang serba canggih, meski hanya berbekalkan hape N97. Kenapa gg kita coba kontak Nesa lewat bbm.? Maksutnya ya pake bbm teman. Ternyata nyari rumah tuh anak gg susah, cari aja rumah yang berhadapan langsung dengan taman tanpa lampu.
................setibanya di Loop.........................
Gag nyangka banget kalo sekeluar dari mobil semua mata tertuju pada saya. Seorang pria pendek hitam yang takkan pernah dilirik sama nenek-nenek sekalipun, mampu membawa 3malaikat SMA jalan ditempat ini. CONGRATULATION.
Awalnya kita canggung. Coba aja perhatikan langkah saya yang berada di depan mereka, mirip Topeng Monyet. Dan mereka bertiga yang berada di belakang adalah Drum band yang mengiringi saya dengan lagu Tokek Belang.
Tau kan kalo anak SMA pergi kesini itu apa yang dicari, ya SISHA. Rokok yang berasal dari arab dengan segala bentuk keanehanya dan desas-desus penyakit yang gg jelas. Tapi kita loh cuek. Sisha kita malam ini rasa anggur. Kenapa anggur.? Karena 3 di antara kita (aku, Nesa, Icha) pada suka warna ungu.
Bisa dibilang yang senior disini adalah aku dan Icha, karena kita sering ngehirup benda ini. Dan Nesa serta Nataya adalah korban kita. Namanya juga cewe yang anti banget dengan rokok. Pasti mereka ogah-ogahan ngehirupnya. Yahh, paling nggag setan momok berhasil biki mereka ngincipin sisha.
Beda dengan mereka berdua, Icha nampak menikmati banget. Jujur saya bengong sampe dagu beriler dan baju basah kuyup memandang bibir Icha. Mulai dari dia menghisap, berkumur dengan asap, dan meniupkan kembali. Eksotis - seksi - keren, mirip cerobong asap kereta api.
Gg kerasa waktu sirik sama kita, yang tadinya jam 8 sekarang sudah hampir jam 10. Dan kita terpaksa pulang. Yang aku pikirkan adalah pulang, cuci muka, dan tidur. Tapi aku lupa.!! aku masih d booking jadi sopir sewaan dan harung mengantarkan dengan rute Margorejo - Kutisari - Rungkut - Ketintang.
Jumat, 08 Oktober 2010
Senin, 04 Oktober 2010
SEAN KINGSTON (02/02)
...............lanjutan dari SEAN KINGSTON (01/02)......................
Keringat dingin bercucuran, otak tak kuasa memikirkan alibi-alibi. Dan anehnya Icha yang rumah di rungkut bisa sampai duluan. Sok-sok jadi detektif, aku kumpulkan semua perasaan yang ada. Ternyata Icha berangkat dari rumah nenek yang ada di Darmo.
Belum masuk Grand City. Tapi ini badan udah shock melihat gemerlap lampu penerangan, security-security yang ada, dan SPG rokok L.A. Lights. Mendengar namanya aja udah membayangkan hal-hal yang aneh, apalagi bertemu mereka. Mulut pasti monyong-monyong sendiri pingin menikmati (rokok maksutnya). Dan kabar baiknya, tiket yang kami beli nantinya akan ditukarkan dengan melewati gerbang Convention Hall dan 1bungkus LA Lights Menthol.
*perbincangan dalam telpon*
Bhismo: Halo, nat kamu dimana.?
Nattaya: Di dalam kak. Kakak kalo sampe, parkir d basement. Langsung ke lobby.
Bhismo: Ok, sipp tunggu ya.
Habis markir mobil, bergegas aku lari ke atas. Dan disini ada 2lobby, kalau bonda-bandi pasti kelamaan, apalagi pakai tanya Jelangkung. Alhasil mau gg mau yang paling ramai itu yang aku pilih. Udah bela-belain antri lama dan silau karna sinar bulan ternyata pas masuk malah ketemu Sarah Sechan dan Titi Sjuman. Lah mereka kan juri IMB, ya ampun saya salah masuk gedung.
Pas, tepat waktu, gg kurang gg lebih, waktu aku dateng nemuin Icha dan Nattaya. Ceremony open gate dimulai. Dari belakang ada orang nyodorin tanganya, "kenalkan saya Nani, anak dari teman mamanya Nattaya." Ya ampun, si Nani ini berperawakan bongsor, mengenakan kaos agak kebesaran, celana panjang lebar, dan sepatu Adidas Running. Aku cuma bisa mbatin "pasti dia SK banget,dandananya mirip. Cuma gg gosong aja."
Acara dimulai jam 9. Dari jam 9 sampai setengah 11 itu perform DJ. jam setengah 11 sampe hampir pergantian hari ada perform dari band Blowfish. Jam 12 sampe setengah 1 kembali lagi perform DJ. Dan saat yang ditunggu-tunggu tiba. Tepatnya setengah 1 lebih sedikit, kru dari Sean Kingston sedang check sound. baru juga ngecek suara, aura para penonton sudah tak dapat dikendalikan. Brutal, binal, rasis, dan ............
UNDER CONSTRUCTION
Keringat dingin bercucuran, otak tak kuasa memikirkan alibi-alibi. Dan anehnya Icha yang rumah di rungkut bisa sampai duluan. Sok-sok jadi detektif, aku kumpulkan semua perasaan yang ada. Ternyata Icha berangkat dari rumah nenek yang ada di Darmo.
Belum masuk Grand City. Tapi ini badan udah shock melihat gemerlap lampu penerangan, security-security yang ada, dan SPG rokok L.A. Lights. Mendengar namanya aja udah membayangkan hal-hal yang aneh, apalagi bertemu mereka. Mulut pasti monyong-monyong sendiri pingin menikmati (rokok maksutnya). Dan kabar baiknya, tiket yang kami beli nantinya akan ditukarkan dengan melewati gerbang Convention Hall dan 1bungkus LA Lights Menthol.
*perbincangan dalam telpon*
Bhismo: Halo, nat kamu dimana.?
Nattaya: Di dalam kak. Kakak kalo sampe, parkir d basement. Langsung ke lobby.
Bhismo: Ok, sipp tunggu ya.
Habis markir mobil, bergegas aku lari ke atas. Dan disini ada 2lobby, kalau bonda-bandi pasti kelamaan, apalagi pakai tanya Jelangkung. Alhasil mau gg mau yang paling ramai itu yang aku pilih. Udah bela-belain antri lama dan silau karna sinar bulan ternyata pas masuk malah ketemu Sarah Sechan dan Titi Sjuman. Lah mereka kan juri IMB, ya ampun saya salah masuk gedung.
Pas, tepat waktu, gg kurang gg lebih, waktu aku dateng nemuin Icha dan Nattaya. Ceremony open gate dimulai. Dari belakang ada orang nyodorin tanganya, "kenalkan saya Nani, anak dari teman mamanya Nattaya." Ya ampun, si Nani ini berperawakan bongsor, mengenakan kaos agak kebesaran, celana panjang lebar, dan sepatu Adidas Running. Aku cuma bisa mbatin "pasti dia SK banget,dandananya mirip. Cuma gg gosong aja."
Acara dimulai jam 9. Dari jam 9 sampai setengah 11 itu perform DJ. jam setengah 11 sampe hampir pergantian hari ada perform dari band Blowfish. Jam 12 sampe setengah 1 kembali lagi perform DJ. Dan saat yang ditunggu-tunggu tiba. Tepatnya setengah 1 lebih sedikit, kru dari Sean Kingston sedang check sound. baru juga ngecek suara, aura para penonton sudah tak dapat dikendalikan. Brutal, binal, rasis, dan ............
UNDER CONSTRUCTION
Senin, 27 September 2010
SEAN KINGSTON (01/02)
Berawal dari sebuah Social Networking yang lagi trend dengan gambar bur*ngnya (twitter). Si @nattalexa tweet-tweet-an sama @chaanophe. Mereka asik ngomongin tentang event Blow*ish yang katanya mau mendatangkan penyanyi kondang(an) dari Amerika sana, Sean Kingston (SK), ia berperawakan overweight gemuknya, hitam pekat, dan keris-matic (charissmatic). Gatau gimana jelasnya, karena saya orangnya suka nimbrung (lebih tepatnya mengganggu) tweet orang. Angin sedap pun menjemput saya, menghantarkan kepergian seorang pria jomblo kepada kehidupan malam. In fact I feel speechless at that time, isn't thingking about sexy women who will come to me (and maybe will be seduce me), but I'm thingking about "saget gg yo tuku tiket'e"
Semalaman suntuk saya mikir bagaimana caranya agar bisa bilang ke papa. Mulai dari saat makan bersama, saya naik meja dan teriak pingin liad SK. Atau waktu papa akan pergi kerja, saya menangis di depan pagar. Dan hal terakhir yang saya pikirkan adalah bilang ke adik, dengan harpan adik bilang ke mama, dan informasi itu bocor ke papa. LUPAKAN.!! Terlalu bertele-tele, lebih baik bilang langsung saja ke papa. Bagai Aceh yang disambut Tsunami, papa langsung ngijinin dengan catatan waktu itu belum ngasi uang. Terpaksa deh pakai uang tabungan dulu.
Seminggu menjelang hari H (25.09.10)
@mow2_ (saya) @chaanophe (icha) dan @nattalexa (nattaya) pada ribut di tweet tentang cara berpakaian yang benar. Kita semua takut salah pakai alat penutup aurat saat nonton SK. Entah itu terlalu mencolok layaknya babydoll, roll rambut, masker, dan kawan2nya. Awalnya mau pakai (untuk cewe) mini dress dan heels, tapi ini kan berdiri. Jadi si heels terpaksa di coret dari daftar dan diganti sandal trepes. yang namanya cewe, slalu aja ada alasan untuk bilang dirinya kurang menarik. Mereka pada berdebat tentang baju-baju. Yang pasti harapan sapa pergi dengan cewe-cewe sexy mantap nan aduhai pupus deh T^T . Saya hanya diam dan bertekad "ntar pake clana panjang, converse, dan baju yang bisa nyala aja" I think the people will see my FACE of T-Shirt
Namanya juga saya cowo, selain ingin merasa lebih dekat dengan (teman) wanita. Menjemput adalah tugas mulia yang harus saya emban. Dimulai dengan menelpon Icha, berharap aja
ia kena hipnotis saya dan mau dijemput. Ternyata benar, suatu tindakan yang dilakukan dengan pikiran buruk tidak akan pernah berjalan mulus layaknya jalan tol. Bukannya mbak-mbak mailbox yang ngangkat, tapi malah gg ada nada sambung sama sekali. Belum sempet ngobrol sama Icha, si Nattaya udah sms "kak,dimana.? aku sampe cepet kesini" . Nyantai ajalah, rumahku (ketintang) - Grand City kan deket. Gag ada 299detik, Nattaya sms lagi "kakak dmana seh.? Icha loh uda sampe"
Keringat dingin bercucuran, otak tak kuasa memikirkan alibi-alibi. Dan anehnya Icha yang bertinggal tempat di rungkut bisa sampai duluan. Sok-sok jadi detektif, saya kumpulkan semua perasaan yang ada. Ternyata, eh ternyata, Icha berangkat dari rumah nenek-nya yang berada di daerah Darmo.
B E R S A M B U N G ! !
next : SEAN KINGSTON (02/02)
Semalaman suntuk saya mikir bagaimana caranya agar bisa bilang ke papa. Mulai dari saat makan bersama, saya naik meja dan teriak pingin liad SK. Atau waktu papa akan pergi kerja, saya menangis di depan pagar. Dan hal terakhir yang saya pikirkan adalah bilang ke adik, dengan harpan adik bilang ke mama, dan informasi itu bocor ke papa. LUPAKAN.!! Terlalu bertele-tele, lebih baik bilang langsung saja ke papa. Bagai Aceh yang disambut Tsunami, papa langsung ngijinin dengan catatan waktu itu belum ngasi uang. Terpaksa deh pakai uang tabungan dulu.
Seminggu menjelang hari H (25.09.10)
@mow2_ (saya) @chaanophe (icha) dan @nattalexa (nattaya) pada ribut di tweet tentang cara berpakaian yang benar. Kita semua takut salah pakai alat penutup aurat saat nonton SK. Entah itu terlalu mencolok layaknya babydoll, roll rambut, masker, dan kawan2nya. Awalnya mau pakai (untuk cewe) mini dress dan heels, tapi ini kan berdiri. Jadi si heels terpaksa di coret dari daftar dan diganti sandal trepes. yang namanya cewe, slalu aja ada alasan untuk bilang dirinya kurang menarik. Mereka pada berdebat tentang baju-baju. Yang pasti harapan sapa pergi dengan cewe-cewe sexy mantap nan aduhai pupus deh T^T . Saya hanya diam dan bertekad "ntar pake clana panjang, converse, dan baju yang bisa nyala aja" I think the people will see my FACE of T-Shirt
Namanya juga saya cowo, selain ingin merasa lebih dekat dengan (teman) wanita. Menjemput adalah tugas mulia yang harus saya emban. Dimulai dengan menelpon Icha, berharap aja
ia kena hipnotis saya dan mau dijemput. Ternyata benar, suatu tindakan yang dilakukan dengan pikiran buruk tidak akan pernah berjalan mulus layaknya jalan tol. Bukannya mbak-mbak mailbox yang ngangkat, tapi malah gg ada nada sambung sama sekali. Belum sempet ngobrol sama Icha, si Nattaya udah sms "kak,dimana.? aku sampe cepet kesini" . Nyantai ajalah, rumahku (ketintang) - Grand City kan deket. Gag ada 299detik, Nattaya sms lagi "kakak dmana seh.? Icha loh uda sampe"
Keringat dingin bercucuran, otak tak kuasa memikirkan alibi-alibi. Dan anehnya Icha yang bertinggal tempat di rungkut bisa sampai duluan. Sok-sok jadi detektif, saya kumpulkan semua perasaan yang ada. Ternyata, eh ternyata, Icha berangkat dari rumah nenek-nya yang berada di daerah Darmo.
B E R S A M B U N G ! !
next : SEAN KINGSTON (02/02)
Selasa, 22 Juni 2010
Dia Yang Selalu Duduk Di Bangku Ini, Mulai Dari Ketawa, Muntah,Hingga Menangis
Minggu 20 Juni 2010
Dalam menjalani hidup, otak kita yang kecil ini selalu dipenuhi oleh kenangan. Mulai dari siapa ayah dan ibu kita, rasa bangga saat pertama kali bisa bersepeda, peristiwa gokil yang kita lakuin, cerita antara cinta dan monyet, serta kenangan-kenangan lain yang sejenis. Tanpa pernah ada rasa syukur, otak kita bisa menyimpan semua beban itu. Bila di ketik dalam Ms.Word bisa mencapai 28,76 gigabyte dengan catatan tanpa gambar. Sumber diperoleh dari ke-sotoy-an sang penulis. Meski terkadang ada otak yang over-capacity sehingga menyuruh orangnya menjedotkan kepala ketembok, bila berhasil dia amnesia. Kalau gagal...saatnya cari tubuh baru (*baca mati dan renkarnasi)
Tak terkecuali saya, begitu banyak kenangan tersimpan di otak. Sadar atau tidak, otak kiri saya lebih banyak untuk menyimpan kenangan. Jadi kalau dilihat dari belakang, saya selalu berjalan dengan kepala yang ambruk ke sebelah kiri. Kalau tegak, tolong periksa apakah ada cagak yang menahan kepala saya atau tidak. Kenangan yang banyak saya simpan tak lain adalah cewek. Bukan bokep, karna itu semua tersimpan dalam memory 32gb N97 saya. Sekali lagi saya tekankan bukan bokep, tapi lebih ke cerita bersama si dia, sebut saja Fina (*nama samaran)
Minggu tepat jam setengah tujuh kupacu si L14AR (*baca: si JazzBiru) menuju rumah Fina. Entah karena tak sabar ketemu saya atau emang sudah pingin nggepukin orang, si Fina sms "Lek,kamu dimana.?". Lek di sini singkatan dari ELEK, sebutan untuk kita berdua. Dengan nada stay-calm saya jawab "Sekarang saya lagi ada di ..... lagi ada di hatimu sayang". Dan ujung-ujungnya dia selalu muntah berak di kolong wewe saat kena gombalan ala Bhismo. Setibanya di rumah Fina, dia langsung ngibrit naik mobil. "Ayo lek kita jemput Ria". Ria (*nama yang disamarkan) tak lain adalah sahabat seperguruan Fina di SMAN15.
Serasa menjadi sopir, kita menuju rumah Ria. Tak sengaja saat masuk perumahannya saya bertemu dengan Raden (*ini baru nama asli) mencegat si L14AR. Terpaksa mau gg mau saya harus memungut anak orang 1lagi. Kini kita imbang, 2gadis virgin dengan 2pria yang diragukan. Di belakang ada Raden (kiri) bersama Ria (kanan), dan depan ada aku (nyetir) dan Fina (co-pilot). Tiap kali pergi Fina selalu duduk di bangku itu (depan-kiri), terakhir ia duduk tertinggalah noda yang mampu membuat satu ruangan busuk. Bukan kentut bebek ataupun jigong naga, namun muntah.. Ya muntah dari seorang gadis 17tahun ceking layaknya nenek-nenek dengan kawat di giginya, dengan harapan takada gigi yang lepas. Kini entah apa yang akan ia lakukan...
Emang karena basic saya mirip om-om hidung merah jambu, saya godain tuh si Fina. Mulai dari ilik-kitik, ketawa geje, triak-triakan, dan bahkan humor garing bisa membuat kita berdua tertawa. Contohnya:
Fina: Ehh,baunya kok enak sih. Lek kamu parfuman.?
Bismo: Wah,akirnya ada yang nyadar. Iya saya parfuman, harum kan.? Please closer to me to get the best flavour from this parfume
Fina: *sambil monyongin hidung babinya ke ketek saya* Jangan aneh-aneh kamu.!!
Bismo: *dengan sigap saya jepit kepalanya Fina di selangkangan ketek saya* Rasain nih, jepitan maut.!!
Ria: *membuka jendela* Tolong-tolong ada monster ketek menganiaya nenek-nenek.
Raden: Inalilahi Wainalilahi Rojiun, semoga Fina pergi dengan tenang tanpa bau ketek. Kasian surganya entar langsung busuk.
Malam ini kita berempat nongkrong di Loop, salah satu tempat nongkrong di Surabaya daerah Pakuwon. Karena kita bosan dengan tradisi barat, kita cari tempat yang bernuansa Timur Tengah. Sahara memiliki konsep Timur Tengah yang kental, mulai dari kebab, sisha, lagu-lagu beken seperti Jai Hoo (ost.SlumDog) dan Terajana. "Aku mau burger.!!" teriak Fina. "Kalau aku spagheti" sebut Ria. Jujur aku bertanya-tanya dalam hati. Apakah di negri pasir ada burger dan spagheti.? Jangan-jangan gado-gado pun ada... Ternyata emang beneran ada (burger dan spagheti-nya) meski penyajiannya aneh. Kedua makanan tersebut menggunakan daging kebab yang lebih mirip dengan daging sapi yang terkelupas karena kebawa umur dan tomatnya mirip potongan kue Monde Kalengan.
Jam sembilan kita sepakat pulang. Saat di jalan cowo dari si Fina ini menelpon Fina, ini ada secuplik dialog antara Fina dan cowonya
Cowonya: Lo dimana sekarang.!! *dengan nada keras*
Fina: Aku di rumah *dengan nada anak rumahan yang sudah membusuk lumutan di kamar*
Cowonya: Jangan bohong.!!
Fina: Beneran, aku di rumah. Telpon mamaku kalo gg pecaya.!
Cowonya: Oke, gue ke ruma lo skarang. Awas klo gg ada..
___tuutt..tuutt..ttuut..*putus*
___kriingg...kriiing..*ringing tone*
Fina: Apaan sih telpon lagi,kamu udah percaya.?
Cowonya: Lo di Sutos kan.!? Ni gue di depan mobil lo,cepet keluar ato gue ancurin nih mobil.!!
Fina: Terserah kalo gg pcaya.!! *meneteskan air mata*
Baru kali ini ada cewe menangis di mobil, setelah sebelumnya tentu saja ia muntah di sini. "Kenapa orang pertama yang menangis di situ bukan ceweku.!?" Pengen nangis kecewa rasanya, tapi gg lucu banget kalau sopir dan penumpang nangis bareng. Ntar takutnya dikira kita berdua lagi diculik. Dengan guyonan apa adanya si aden berucap,"Liad tuh ada jagung,ada yang mau.?". Dampak yang dihasilkan sangat fantastis, bisa membuat suara jangkrik terdengar kriik..krrik..krikk. Tak mau kalah si Ria bilang,"Sudahlah,paling juga cowomu mabuk". Saat ku menoleh, kini tampang Fina sudah lengket layaknya Monster Rawa. Muka dia penuh dengan keringat yang bercampur dengan air mata dan ingus.
Saat di depan rumah Fina sempat berucap,"Udah ya lek,makasih. Jangan kapok ngajak aku keluar." . Sebelum langkahnya makin jauh, dengan polosnya aku menyodorkan dia jari kelingking kananku dan dia menyambutnya dengan jari kelingking kanan dia. Aku bilang,"Janji ya jangan sedih lagi" tak lupa tampang imut mirip JB aku pamerkan (*JB = Jambretnya Bungurasih). Dan pada ending-nya meski menangis, tampak senyum yang indah di balik wajah Fina itu.
Dalam menjalani hidup, otak kita yang kecil ini selalu dipenuhi oleh kenangan. Mulai dari siapa ayah dan ibu kita, rasa bangga saat pertama kali bisa bersepeda, peristiwa gokil yang kita lakuin, cerita antara cinta dan monyet, serta kenangan-kenangan lain yang sejenis. Tanpa pernah ada rasa syukur, otak kita bisa menyimpan semua beban itu. Bila di ketik dalam Ms.Word bisa mencapai 28,76 gigabyte dengan catatan tanpa gambar. Sumber diperoleh dari ke-sotoy-an sang penulis. Meski terkadang ada otak yang over-capacity sehingga menyuruh orangnya menjedotkan kepala ketembok, bila berhasil dia amnesia. Kalau gagal...saatnya cari tubuh baru (*baca mati dan renkarnasi)
Tak terkecuali saya, begitu banyak kenangan tersimpan di otak. Sadar atau tidak, otak kiri saya lebih banyak untuk menyimpan kenangan. Jadi kalau dilihat dari belakang, saya selalu berjalan dengan kepala yang ambruk ke sebelah kiri. Kalau tegak, tolong periksa apakah ada cagak yang menahan kepala saya atau tidak. Kenangan yang banyak saya simpan tak lain adalah cewek. Bukan bokep, karna itu semua tersimpan dalam memory 32gb N97 saya. Sekali lagi saya tekankan bukan bokep, tapi lebih ke cerita bersama si dia, sebut saja Fina (*nama samaran)
Minggu tepat jam setengah tujuh kupacu si L14AR (*baca: si JazzBiru) menuju rumah Fina. Entah karena tak sabar ketemu saya atau emang sudah pingin nggepukin orang, si Fina sms "Lek,kamu dimana.?". Lek di sini singkatan dari ELEK, sebutan untuk kita berdua. Dengan nada stay-calm saya jawab "Sekarang saya lagi ada di ..... lagi ada di hatimu sayang". Dan ujung-ujungnya dia selalu muntah berak di kolong wewe saat kena gombalan ala Bhismo. Setibanya di rumah Fina, dia langsung ngibrit naik mobil. "Ayo lek kita jemput Ria". Ria (*nama yang disamarkan) tak lain adalah sahabat seperguruan Fina di SMAN15.
Serasa menjadi sopir, kita menuju rumah Ria. Tak sengaja saat masuk perumahannya saya bertemu dengan Raden (*ini baru nama asli) mencegat si L14AR. Terpaksa mau gg mau saya harus memungut anak orang 1lagi. Kini kita imbang, 2gadis virgin dengan 2pria yang diragukan. Di belakang ada Raden (kiri) bersama Ria (kanan), dan depan ada aku (nyetir) dan Fina (co-pilot). Tiap kali pergi Fina selalu duduk di bangku itu (depan-kiri), terakhir ia duduk tertinggalah noda yang mampu membuat satu ruangan busuk. Bukan kentut bebek ataupun jigong naga, namun muntah.. Ya muntah dari seorang gadis 17tahun ceking layaknya nenek-nenek dengan kawat di giginya, dengan harapan takada gigi yang lepas. Kini entah apa yang akan ia lakukan...
Emang karena basic saya mirip om-om hidung merah jambu, saya godain tuh si Fina. Mulai dari ilik-kitik, ketawa geje, triak-triakan, dan bahkan humor garing bisa membuat kita berdua tertawa. Contohnya:
Fina: Ehh,baunya kok enak sih. Lek kamu parfuman.?
Bismo: Wah,akirnya ada yang nyadar. Iya saya parfuman, harum kan.? Please closer to me to get the best flavour from this parfume
Fina: *sambil monyongin hidung babinya ke ketek saya* Jangan aneh-aneh kamu.!!
Bismo: *dengan sigap saya jepit kepalanya Fina di selangkangan ketek saya* Rasain nih, jepitan maut.!!
Ria: *membuka jendela* Tolong-tolong ada monster ketek menganiaya nenek-nenek.
Raden: Inalilahi Wainalilahi Rojiun, semoga Fina pergi dengan tenang tanpa bau ketek. Kasian surganya entar langsung busuk.
Malam ini kita berempat nongkrong di Loop, salah satu tempat nongkrong di Surabaya daerah Pakuwon. Karena kita bosan dengan tradisi barat, kita cari tempat yang bernuansa Timur Tengah. Sahara memiliki konsep Timur Tengah yang kental, mulai dari kebab, sisha, lagu-lagu beken seperti Jai Hoo (ost.SlumDog) dan Terajana. "Aku mau burger.!!" teriak Fina. "Kalau aku spagheti" sebut Ria. Jujur aku bertanya-tanya dalam hati. Apakah di negri pasir ada burger dan spagheti.? Jangan-jangan gado-gado pun ada... Ternyata emang beneran ada (burger dan spagheti-nya) meski penyajiannya aneh. Kedua makanan tersebut menggunakan daging kebab yang lebih mirip dengan daging sapi yang terkelupas karena kebawa umur dan tomatnya mirip potongan kue Monde Kalengan.
Jam sembilan kita sepakat pulang. Saat di jalan cowo dari si Fina ini menelpon Fina, ini ada secuplik dialog antara Fina dan cowonya
Cowonya: Lo dimana sekarang.!! *dengan nada keras*
Fina: Aku di rumah *dengan nada anak rumahan yang sudah membusuk lumutan di kamar*
Cowonya: Jangan bohong.!!
Fina: Beneran, aku di rumah. Telpon mamaku kalo gg pecaya.!
Cowonya: Oke, gue ke ruma lo skarang. Awas klo gg ada..
___tuutt..tuutt..ttuut..*putus*
___kriingg...kriiing..*ringing tone*
Fina: Apaan sih telpon lagi,kamu udah percaya.?
Cowonya: Lo di Sutos kan.!? Ni gue di depan mobil lo,cepet keluar ato gue ancurin nih mobil.!!
Fina: Terserah kalo gg pcaya.!! *meneteskan air mata*
Baru kali ini ada cewe menangis di mobil, setelah sebelumnya tentu saja ia muntah di sini. "Kenapa orang pertama yang menangis di situ bukan ceweku.!?" Pengen nangis kecewa rasanya, tapi gg lucu banget kalau sopir dan penumpang nangis bareng. Ntar takutnya dikira kita berdua lagi diculik. Dengan guyonan apa adanya si aden berucap,"Liad tuh ada jagung,ada yang mau.?". Dampak yang dihasilkan sangat fantastis, bisa membuat suara jangkrik terdengar kriik..krrik..krikk. Tak mau kalah si Ria bilang,"Sudahlah,paling juga cowomu mabuk". Saat ku menoleh, kini tampang Fina sudah lengket layaknya Monster Rawa. Muka dia penuh dengan keringat yang bercampur dengan air mata dan ingus.
Saat di depan rumah Fina sempat berucap,"Udah ya lek,makasih. Jangan kapok ngajak aku keluar." . Sebelum langkahnya makin jauh, dengan polosnya aku menyodorkan dia jari kelingking kananku dan dia menyambutnya dengan jari kelingking kanan dia. Aku bilang,"Janji ya jangan sedih lagi" tak lupa tampang imut mirip JB aku pamerkan (*JB = Jambretnya Bungurasih). Dan pada ending-nya meski menangis, tampak senyum yang indah di balik wajah Fina itu.
Senin, 14 Juni 2010
mow2_tret
mow2_tret.!!
Saya penasaran dengan lekuk bibir anda ketika anda berusaha membaca tulisan di atas.? Apakah anda membacanya dengan ejaan "mow-mow-tret" atau mungkin "maw-mow-tret" , "mew-mow-tret" , dan parahnya lagi sambil monyong anda bilang "mow...moow". Bisa-bisa sapi jantan lari semua nyiapin torpedonya untuk nyoba lubang yang anda bawa. Haha .. tapi gg mungkin, sapi jaman sekarang sudah bisa memilih pasangan hidup. Ini terlihat dari turunnya jumlah sapi gila (*akibat salah pasangan*) di dunia ini.
Sedikit flashback tentang mow2_tret. Tepatnya pada awal April 2010. Di mana saya, Bhismo Ananta bersama si Alpha 300 hunting poto di Makam Peneleh. Meski dengan kedok makam, jangan berharap saya moto-in hantu. Karna di jaman yang serba modern ini, hantu hanyalah cerita yang digunakan oleh para orang tua jahat untuk menakut-nakuti anak kecil yang gg bisa tidur. Intinya saya motret orang, sebut saja Ratna. Kita bertiga (aku,Oge,Lukas) mempunyai ciri tersendiri dalam memotret. Seperti Oge yang setia dgn lensa pipa dgn panjang plus-plus (tele), Lukas memanfaatkan lensa gratisan dari beli kamera (kit), dan saya sendiri memakai lensa yang mirip kaleng sarden (fix).
Masalah lensa tidak begitu saya pikirkan, toh ada uang ada barang. tanpa skill, lensa mahal mubazir. Tapi ini yang gg saya punya dari mereka berdua dan selalui menghantui malamku, sejenis lambang di foto, geesign (Oge Design) dan lookgraphy (Lukas Photography). Itu trademark mereka, apalagi sekarang plagiat merajarela. Takutnya poto tanpa trademark di ambil seseorang dan diakui bahwa itu karya orang tersebut, nah loo...apa tambah gg ribet.??
Sepulang hunting, ini otak terus berpikir "tulisan apa ya yang sekiranya cocok buat saya.?". Agar tak lupa saya menyiapkan pensil 2b lengkap dengan penghapusnya serta hvs folio. Tuliss..tuulis..dan tuuliiss.. Akhirnya ketemu ada sekitar 4 karya, yaitu bisign (bising), big'gay (BIsmo GrApY), moto (moMO poTO), dan mowtret (mow potret). Sebenernya tuh nama gg ada yang keren, sumpah kurang ngigit gitu rasanya, terlalu standard. Entah kerasukan setan apa, tiba-tiba tv menayangkan iklan ice cream moo "mooooowww...". Boleh juga tuh, plagiat dikit mumpung sapinya gg tau. Dan akhirnya di rombak sana-sini ketemulah kata-kata mow2_tret
Gg ada yang istimewa, cuma sebuah kata tanpa bisa dijelaskan secara harafiah. Tapi saya suka itu, dan pada 6 April 2010, mow2_tret resmi saya gunakan sebagai ciri khas di setiap poto saya dengan warna yang keren, UNGU.!!
Saya penasaran dengan lekuk bibir anda ketika anda berusaha membaca tulisan di atas.? Apakah anda membacanya dengan ejaan "mow-mow-tret" atau mungkin "maw-mow-tret" , "mew-mow-tret" , dan parahnya lagi sambil monyong anda bilang "mow...moow". Bisa-bisa sapi jantan lari semua nyiapin torpedonya untuk nyoba lubang yang anda bawa. Haha .. tapi gg mungkin, sapi jaman sekarang sudah bisa memilih pasangan hidup. Ini terlihat dari turunnya jumlah sapi gila (*akibat salah pasangan*) di dunia ini.
Sedikit flashback tentang mow2_tret. Tepatnya pada awal April 2010. Di mana saya, Bhismo Ananta bersama si Alpha 300 hunting poto di Makam Peneleh. Meski dengan kedok makam, jangan berharap saya moto-in hantu. Karna di jaman yang serba modern ini, hantu hanyalah cerita yang digunakan oleh para orang tua jahat untuk menakut-nakuti anak kecil yang gg bisa tidur. Intinya saya motret orang, sebut saja Ratna. Kita bertiga (aku,Oge,Lukas) mempunyai ciri tersendiri dalam memotret. Seperti Oge yang setia dgn lensa pipa dgn panjang plus-plus (tele), Lukas memanfaatkan lensa gratisan dari beli kamera (kit), dan saya sendiri memakai lensa yang mirip kaleng sarden (fix).
Masalah lensa tidak begitu saya pikirkan, toh ada uang ada barang. tanpa skill, lensa mahal mubazir. Tapi ini yang gg saya punya dari mereka berdua dan selalui menghantui malamku, sejenis lambang di foto, geesign (Oge Design) dan lookgraphy (Lukas Photography). Itu trademark mereka, apalagi sekarang plagiat merajarela. Takutnya poto tanpa trademark di ambil seseorang dan diakui bahwa itu karya orang tersebut, nah loo...apa tambah gg ribet.??
Sepulang hunting, ini otak terus berpikir "tulisan apa ya yang sekiranya cocok buat saya.?". Agar tak lupa saya menyiapkan pensil 2b lengkap dengan penghapusnya serta hvs folio. Tuliss..tuulis..dan tuuliiss.. Akhirnya ketemu ada sekitar 4 karya, yaitu bisign (bising), big'gay (BIsmo GrApY), moto (moMO poTO), dan mowtret (mow potret). Sebenernya tuh nama gg ada yang keren, sumpah kurang ngigit gitu rasanya, terlalu standard. Entah kerasukan setan apa, tiba-tiba tv menayangkan iklan ice cream moo "mooooowww...". Boleh juga tuh, plagiat dikit mumpung sapinya gg tau. Dan akhirnya di rombak sana-sini ketemulah kata-kata mow2_tret
Gg ada yang istimewa, cuma sebuah kata tanpa bisa dijelaskan secara harafiah. Tapi saya suka itu, dan pada 6 April 2010, mow2_tret resmi saya gunakan sebagai ciri khas di setiap poto saya dengan warna yang keren, UNGU.!!
Minggu, 18 April 2010
PRIA JUGA BISA MENANGIS
12 April 2010. Di kantin sekolah.
Ketika ku tiba di kantin sekolah, aku melihat sahabatku (sebut saja Rian) sedang duduk sendiri di salah satu bangku kantin. Tak seperti biasanya ia murung. Ia tertunduk sedih seolah menangisi kisah hidupnya. Hal itu terlihat dari cara ia duduk, mulai dari pandangannya yang kosong, cara ia memegang kamera DSLR yang ada di tangannya, dan mulut yang berulang kali mengatakan bahwa impian dan takdir tak dapat disejajarkan. Ku beranikan diri untuk mendekati Rian dan menanyakan apa yang sedang ia alami. Perawakannya tinggi dan ideal, mungkin 170 cm-an dengan berat 55kg. Memiliki muka yang memanjang, mata yang menyipit bila ketawa, rambut ikal dengan potongan mohawk, dan kulit sawo matang. Tidak cakep, tapi enak untuk dipandang.
“Boleh saya duduk di sini.?” tanyaku padanya. Rian tidak memperhatikanku, bersamaan dengan itu ia mengusap air matanya dan menganggukkan kepala tanda memperbolehkanku untuk duduk satu meja dengannya. Seketika suasana menjadi hening. Meski kantin rame akan siswa-siswi yang lain, namun keramaian itu seolah tak mampu menembus tembok yang sedang mengelilingi kita. Kuberanikan diri untuk bertanya, “Kamu gg apa apa tah.?” . Ia tak menjawab pertanyaanku. Sekali lagi aku bertanya, “Bole aku membantumu.?” . Dan apa yang ia lakukan.? Ia hanya menggertakan giginya. “Maaf kalau aku ngganggu” , bilangku padanya. Dan kali ini dia memandang tajam mataku, seolah melakukan telepati yang mampu menggerakkan hati kecilku. Betapa sedihnya orang ini...
“Mok, bole crita gg.?” , dengan nada datar ia mengucapkan itu padaku. Aku Cuma bisa membalas, “Ya kalo kamu mau,crita aja. Aku ‘kan coba mendengarkan.” Tak seperti anak-anak lain yang menghabiskan waktu istirahat dengan makan dengan selingan canda-tawa. Aku dan Rian menghabiskan waktu ini hanya untuk cerita dan mendengarkan. Ia berceita dengan sungguh-sungguh. Semua apa yang ia rasakan dan ia alami pun di ceritakannya. Tak ada hal yang ditutupinya, kecuali satu, air mata . . .
Cowo juga bisa menangis, ia menangis untuk apa yang ia pegang teguh dan ia sayangi. Cowo selalu menutupi tangisannya dengan tindakan penuh emosi dan amarah. Namun bila air mata sudah mulai menetes, itu tandanya ia sedang benar-benar kehilangan sesuatu yang ia sayang.
Rabu, 7 April 2010. Si Rian mendaftar sebesar Rp 150.000,00 untuk mengikuti salah satu seminar fotografi. Ia tampak senang sekali, karena jujur ini awal seminar-nya dalam bidang fotografi. Memang fotografi terkenal mahal, tapi karena ia dilahirkan di keluarga yang mampu. Ia bisa memiliki 1 dari sekian banyak pilihan kamera. Kamera yang mungkin tak semua orang bisa membelinya. Semenjak itu ia mulai tekun berlatih, ikut hunting, dan kumpul dengan komunitas. Merasa kurang dengan itu semua, ia mulai mencoba untuk hadir dalam seminar.
¬¬Jumat, 9 April 2010. Sehari sebelum hari H (seminar) diadakan. Senyum bahagianya masi nampak melekat erat di wajahnya, namun itu semua berubah setelah ia menerima sms dari salah satu panitia Pensi bahwa besok ada rapat dari jam 08.00 – 12.00 . Sontak ia bingung dan mulai emosi, kenapa ini mendadak.? Besok ada seminar (08.30 – 15.30), di lain sisi tanggung jawab sebagai salah satu anggota Pensi juga perlu diperhatikan. Akhirnya ia berkonsultasi dengan banyak temannya, dan jadilah keputusan bahwa Rian akan mengikuti rapat terlebih dahulu baru lanjut ke acara seminar
Sabtu, 10 April 2010. Rian tiba di sekolah tepat waktu, begitu juga dengan acara rapatnya yang molor satu jam. Tepat pukul 09.00 acara di mulai, ia nampak gelisah dan pikiran akan seminar selalu menghantui otaknya. Sepanjang rapat Rian menjadi orang yang pendiam dan selalu kaget bila mendapat pertanyaan dari anggota panitia yang lain.
Meski rapat dimulai tidak sesuai dengan jadwal, namun rapat dapat bubar sesuai waktu yang ditentukan. Ia langsung menancap gas kencang-kencang ke arah ke Novotel. Kini waktu menunjukkan pukul 12.30 . Sudah tiga jam ia telat, dan entah berapa season terlewatkan. Setibanya di depan Brawijaya Room, Rian menunjukkan bukti pendaftaran kepada petugas. Dan apa yang mereka (panitia seminar) temukan.? Nama Rian tak tercantum di situ, selain itu Rian juga tak mendapatkan ID Card sesuai dengan ketentuan. Rian hanya mendapatkan bingkisan yang entah isinya apa, karena ia males untuk melihatnya. Ketika ia mulai masuk ke dalam ruangan, ia menemukan para peserta sedang poto bersama. Dan ia pun ikut dalam sesi itu, setelah itu panitia seminar mengatakan bahwa sekarang adalah jam makan siang. Jadi setibanya di sana, Rian cuma poto dan berlanjut ke ruang makan Novotel.
Jam makan siang 12.30 – 13.30 , Rian nampak tidak memiliki selera untuk makan. Ia memikirkan betapa bodohnya dia mau membuang uang 150.000 begitu saja.? Total acatra 3 sesi, dan sekarang tinggal 1 sesi lagi. Di lain sisi lain dari otaknya, ia juga memikirkan akan duduk di mana. Meski hanya sekilas melihat, namun nampak di ruangan seminar tak ada tempat duduk yang kosong untuk dia.
Jam makan siang pun berakhir, kini semua peserta telah kumpl kembali dalam Brawijaya Hall, Novotel. Rian nampak bingung mencari tempat duduk. Semua sudut ruangan telah ia perhatkan dan hasilnya NIHIL. “Dik, coba itu ada kursi kosong. Kamu tanya ada orangnya nggag” , ucap salah seorang peserta yang ada dibelakang Rian. Rian pun segera menghampirinya dan bertanya ke orang yang dekat dengan bangku kosong tersebut, “Maaf, di sini ada orangnya tidak?” . Rian sangat mengharapkan jawaban “TIDAK” , namun orang itu menjawab kalau di situ ada orangnya. Rian mencoba ke tempat lain yang nampak kosong, dan jawabannya sama. Ada orangnya.
Segala yang ia lakukan adalah tindakan percuma. Ia bela-belain datang ke seminar, namun tak bisa mengikuti salah satu dari sesi yang ada dan juga tak dapat ID card. Rian hanya mengikuti sesi foto bersama dan makan siang. Hancur sudah perasaannya, ia mencoba tuk menahan rasa sedih yang memenuhi hatinya. Ia menahan agar tak ada setetes air mata yang jatuh. Namun dalam perjalanan pulang, air mata yang terbendung akhirnya jatuh. Ia mulai meneteskan air mata. Ia meminggirkan mobilnya dan menyalakan lampu hazzard, entah apa yang ia lakukan di dalam mobil. Tak ada orang yang tahu, kalau seorang cowo (Rian) sedang menangis.
Cerita darinya telah usai, betepatan dengan itu bel skolah berbunyi. Tanda istirahat berakhir. Saat menaiki tangga sekolah, ada seorang cewe yang menghampiri kita. “Rian, kamu kemarin kan pulang cepat. Ada yang ketinggalan, nih ... “ , ucap wanita itu sembari menyerahkan amplop coklat. Saat di buka, entah kenapa Rian meneteskan air mata. Bukan air mata kesedihan, karna ia menangis sambil tersenyum. Rian mendapatkan sertifikat dari seminar kemarin. Entah apa yang Rian pikirkan, aku yakin ia sekarang sedang merasa bahagia.
Ketika ku tiba di kantin sekolah, aku melihat sahabatku (sebut saja Rian) sedang duduk sendiri di salah satu bangku kantin. Tak seperti biasanya ia murung. Ia tertunduk sedih seolah menangisi kisah hidupnya. Hal itu terlihat dari cara ia duduk, mulai dari pandangannya yang kosong, cara ia memegang kamera DSLR yang ada di tangannya, dan mulut yang berulang kali mengatakan bahwa impian dan takdir tak dapat disejajarkan. Ku beranikan diri untuk mendekati Rian dan menanyakan apa yang sedang ia alami. Perawakannya tinggi dan ideal, mungkin 170 cm-an dengan berat 55kg. Memiliki muka yang memanjang, mata yang menyipit bila ketawa, rambut ikal dengan potongan mohawk, dan kulit sawo matang. Tidak cakep, tapi enak untuk dipandang.
“Boleh saya duduk di sini.?” tanyaku padanya. Rian tidak memperhatikanku, bersamaan dengan itu ia mengusap air matanya dan menganggukkan kepala tanda memperbolehkanku untuk duduk satu meja dengannya. Seketika suasana menjadi hening. Meski kantin rame akan siswa-siswi yang lain, namun keramaian itu seolah tak mampu menembus tembok yang sedang mengelilingi kita. Kuberanikan diri untuk bertanya, “Kamu gg apa apa tah.?” . Ia tak menjawab pertanyaanku. Sekali lagi aku bertanya, “Bole aku membantumu.?” . Dan apa yang ia lakukan.? Ia hanya menggertakan giginya. “Maaf kalau aku ngganggu” , bilangku padanya. Dan kali ini dia memandang tajam mataku, seolah melakukan telepati yang mampu menggerakkan hati kecilku. Betapa sedihnya orang ini...
“Mok, bole crita gg.?” , dengan nada datar ia mengucapkan itu padaku. Aku Cuma bisa membalas, “Ya kalo kamu mau,crita aja. Aku ‘kan coba mendengarkan.” Tak seperti anak-anak lain yang menghabiskan waktu istirahat dengan makan dengan selingan canda-tawa. Aku dan Rian menghabiskan waktu ini hanya untuk cerita dan mendengarkan. Ia berceita dengan sungguh-sungguh. Semua apa yang ia rasakan dan ia alami pun di ceritakannya. Tak ada hal yang ditutupinya, kecuali satu, air mata . . .
Cowo juga bisa menangis, ia menangis untuk apa yang ia pegang teguh dan ia sayangi. Cowo selalu menutupi tangisannya dengan tindakan penuh emosi dan amarah. Namun bila air mata sudah mulai menetes, itu tandanya ia sedang benar-benar kehilangan sesuatu yang ia sayang.
Rabu, 7 April 2010. Si Rian mendaftar sebesar Rp 150.000,00 untuk mengikuti salah satu seminar fotografi. Ia tampak senang sekali, karena jujur ini awal seminar-nya dalam bidang fotografi. Memang fotografi terkenal mahal, tapi karena ia dilahirkan di keluarga yang mampu. Ia bisa memiliki 1 dari sekian banyak pilihan kamera. Kamera yang mungkin tak semua orang bisa membelinya. Semenjak itu ia mulai tekun berlatih, ikut hunting, dan kumpul dengan komunitas. Merasa kurang dengan itu semua, ia mulai mencoba untuk hadir dalam seminar.
¬¬Jumat, 9 April 2010. Sehari sebelum hari H (seminar) diadakan. Senyum bahagianya masi nampak melekat erat di wajahnya, namun itu semua berubah setelah ia menerima sms dari salah satu panitia Pensi bahwa besok ada rapat dari jam 08.00 – 12.00 . Sontak ia bingung dan mulai emosi, kenapa ini mendadak.? Besok ada seminar (08.30 – 15.30), di lain sisi tanggung jawab sebagai salah satu anggota Pensi juga perlu diperhatikan. Akhirnya ia berkonsultasi dengan banyak temannya, dan jadilah keputusan bahwa Rian akan mengikuti rapat terlebih dahulu baru lanjut ke acara seminar
Sabtu, 10 April 2010. Rian tiba di sekolah tepat waktu, begitu juga dengan acara rapatnya yang molor satu jam. Tepat pukul 09.00 acara di mulai, ia nampak gelisah dan pikiran akan seminar selalu menghantui otaknya. Sepanjang rapat Rian menjadi orang yang pendiam dan selalu kaget bila mendapat pertanyaan dari anggota panitia yang lain.
Meski rapat dimulai tidak sesuai dengan jadwal, namun rapat dapat bubar sesuai waktu yang ditentukan. Ia langsung menancap gas kencang-kencang ke arah ke Novotel. Kini waktu menunjukkan pukul 12.30 . Sudah tiga jam ia telat, dan entah berapa season terlewatkan. Setibanya di depan Brawijaya Room, Rian menunjukkan bukti pendaftaran kepada petugas. Dan apa yang mereka (panitia seminar) temukan.? Nama Rian tak tercantum di situ, selain itu Rian juga tak mendapatkan ID Card sesuai dengan ketentuan. Rian hanya mendapatkan bingkisan yang entah isinya apa, karena ia males untuk melihatnya. Ketika ia mulai masuk ke dalam ruangan, ia menemukan para peserta sedang poto bersama. Dan ia pun ikut dalam sesi itu, setelah itu panitia seminar mengatakan bahwa sekarang adalah jam makan siang. Jadi setibanya di sana, Rian cuma poto dan berlanjut ke ruang makan Novotel.
Jam makan siang 12.30 – 13.30 , Rian nampak tidak memiliki selera untuk makan. Ia memikirkan betapa bodohnya dia mau membuang uang 150.000 begitu saja.? Total acatra 3 sesi, dan sekarang tinggal 1 sesi lagi. Di lain sisi lain dari otaknya, ia juga memikirkan akan duduk di mana. Meski hanya sekilas melihat, namun nampak di ruangan seminar tak ada tempat duduk yang kosong untuk dia.
Jam makan siang pun berakhir, kini semua peserta telah kumpl kembali dalam Brawijaya Hall, Novotel. Rian nampak bingung mencari tempat duduk. Semua sudut ruangan telah ia perhatkan dan hasilnya NIHIL. “Dik, coba itu ada kursi kosong. Kamu tanya ada orangnya nggag” , ucap salah seorang peserta yang ada dibelakang Rian. Rian pun segera menghampirinya dan bertanya ke orang yang dekat dengan bangku kosong tersebut, “Maaf, di sini ada orangnya tidak?” . Rian sangat mengharapkan jawaban “TIDAK” , namun orang itu menjawab kalau di situ ada orangnya. Rian mencoba ke tempat lain yang nampak kosong, dan jawabannya sama. Ada orangnya.
Segala yang ia lakukan adalah tindakan percuma. Ia bela-belain datang ke seminar, namun tak bisa mengikuti salah satu dari sesi yang ada dan juga tak dapat ID card. Rian hanya mengikuti sesi foto bersama dan makan siang. Hancur sudah perasaannya, ia mencoba tuk menahan rasa sedih yang memenuhi hatinya. Ia menahan agar tak ada setetes air mata yang jatuh. Namun dalam perjalanan pulang, air mata yang terbendung akhirnya jatuh. Ia mulai meneteskan air mata. Ia meminggirkan mobilnya dan menyalakan lampu hazzard, entah apa yang ia lakukan di dalam mobil. Tak ada orang yang tahu, kalau seorang cowo (Rian) sedang menangis.
Cerita darinya telah usai, betepatan dengan itu bel skolah berbunyi. Tanda istirahat berakhir. Saat menaiki tangga sekolah, ada seorang cewe yang menghampiri kita. “Rian, kamu kemarin kan pulang cepat. Ada yang ketinggalan, nih ... “ , ucap wanita itu sembari menyerahkan amplop coklat. Saat di buka, entah kenapa Rian meneteskan air mata. Bukan air mata kesedihan, karna ia menangis sambil tersenyum. Rian mendapatkan sertifikat dari seminar kemarin. Entah apa yang Rian pikirkan, aku yakin ia sekarang sedang merasa bahagia.
Jumat, 26 Maret 2010
Hal Baik Apa yang Pernah Kau Lakukan.
Kamis, 25 Maret 2010
Gubrakk.!! Denk..denk..denk..!! Sroott..csss...
"Grr..suara brisik apa itu.?", gumamku dalam hati tanpa ada misuh yang terucap dari mulut. Tenyata Itu rumah tetangga yang lagi di bangun, brisik amat. Coba saya anak ktua RT di sini. Itu ruma bakal saya bangun dalam waktu 1malam, dengan catatan pinjem jin yg ada d cerita Tangkuban Perahu :DD
Kiikuuk...kiikuuk..kik..kuk.. uda jam 3, ini jam mngingatkan klo ntar ada reunian anak2 SMP. Sebenerny saya pengeng bawa L 14 AR (jazz biru), tapi apa daya uda d pake emes duluan. Ya uda tepaksa cabut naik mobil ebes.
Perjalanan kali ini baik-baik saja, tidak ada cium tempel yang tertera pada mobil ebes. Jangankan baret, bayangan ku aja gg bakal nampak di tuh mobil. Maklum warnanya doff, bukan metalik.
Setela menempuh perjalanan tanpa tersesat, mampu memarkir mobil secara mulus tanpa keluar garis, dan ingat mengunci pintu mobil. Saya memasuki area shopping sebagaimana TP di ciptakan. Spontan saya bilang "Wedan cakk,tibakno mall'e nang kuto koyo ngene toh. Beda karo pasar maleme desoku" Dan anehnya lagi, banyak orang menertawaiku. Saya anggap itu sebagai wujud tanda WELCOME yang sering terjadi di Hawaii.Lebih tepatnya karpet WELCOME-nya terminal Joyobyo.
Hampir setibanya d food court, hp ku bebunyi. "Mok, kita gg jadi ke TP. Ank2 pd ingin nongkrong d Garlick Imam Bonjol" ,dengan santainya si Tika bilang seperti itu. Beda dengan yang ada di paragraf pertama, sekarang jurus seribu silat lidah pada keluar. Mulai dari anjink, tikus, asu, kerek, monyet, tokek, dan dinosaurus pun turut keluar. Aku mulai mual, TP serasa kebun binatang sekarang.
Singkat cerita . . . . . .
"Aloo mamenn.!!" teriakku dari lapangan parkir menyapa orang-orang yang ada di dalam. Dalam hitungan 2 detik, saya kira teman-teman yang ada akan membalas salam saya. Tapi nyatanya sunyi, kriik..krikk..krriik..
Dorrr.!! Dengan histeris saya berteriak, "aw..aww..aw..aaw..". Mirip teriakan gadis jembatan ancol yang sedang kecopetan. Gimana gg kaget coba, orang ngagetin kan biasanya nepuk pundak dan bilang dor. Tapi dia malah mukul kepala dan efek dari bertubrukannya dua benda yang keras (kepala vs tangan) menimbulkan suara DOR.
"Selamat Datang ... " sapa para waitress dengan senyum cemerlang ala PEPSODENT.
"Saya beli pancake original khas Blackbird dan ice cappucino andalan Blackbird" . Sontak banyak orang bingung akan apa yang kupilih ini, bukan bermaksud sombong karna mau beli yang termahal. Tapi saya gg bisa baca tuh daftar menu, yang geblek siapa coba.? Di aloh cuma ngasi daftar menu di meja saya, padahal saya mintanya di bacain sebagai dogeng welcome.
Stengah jam pertama berlalu, dan kita masih becanda tawa. 1 jam terlewati, dan makanan pun mulai berkurang. Stengah jam berikutya makanan habis dan minuman tinggal setengah. Kini sudah 2 jam, dan apa yang terjadi.? Nihil.... tak ada yang berkurang ataupun bertambah. Kita sengaja mempertahankan posisi ini. Genap sudah sekarang 3 jam terlewati, semua gelas dan piring bersih hingga ke sela-sela yang susah terjangkau oleh spon. "Saya suka meremas-remas". Dalam hati aku bertanya, "kenapa makan kaya gini aja lama.?" dan aku baru tahu jawabanya setelah membayar. Ternyata karena mahal, teman-teman ingin merasakannya, menikmatinya, mengincipinya, dan menghabisinya hingga titik jam Blackbird tutup.
Sepanjang jalan pulang, saya merasakan ada yang tak beres dengan bill ini. Dengan gugup saya memeriksa kembali apa yang ada di dalam 1lembar kertas pendek itu, dan hasilnya . . . . . . "kemurahen" (terlalu merah,beda dgn yg ada di menu). Waw..gimana gg senang coba klo untung hampir 50ribu. Tapi apa daya, karena saya badsicnya anak polos dan jujur. Hati nurani bergejolak untuk segera mengembalikan uang itu.
Terhitung 800m lagi lampu merah, dan saya mulai menghitung setiap garis pemisah jalan. hitungan petama untuk kembali, kedua untuk tidak, dst. CIIIITTT....saya behenti tepat di bawah lampu merah dan hasilnya tidak kembali. Tak habis akal saya berpikir, seolah mendapat petuah dari para penyebrang jalan. Saya segera mengjhitung jumlah garis zebra cross dan hasilnya ganjil. Berarti saya harus mengembalikan uang yang sesungguhnya bukan buat saya.
Sedikit lega setelah misi pengembalian uang itu sukses. Dan saya telah belajar banyak kebaikan hari ini. Rasanya hati nurani saya mulai terasah hinga mampu menusuk jantung, paru-paru, dan tenggorokan. 1 hari perasaan senang masi meliputi dan ada rasa untuk pamer, 3 hari sudah mulai terbiasa dan masi eksis pamer, dan 1 minggupun aku benar-benar lupa. Setidaknya sebelum hal itu yang menimpa saya.
2 minggu telah berlalu dan kita janjian untuk kumpul kembali, topik hari ini di buka dengan kata ..
Sheren : "ehh, tau gg tenyata kmaren itu kita dapat diskon"
Atik : "diskon ap an.?"
Sheren : "kmaren tnyata murah karena emg sengaja dikurangi harganya ma Ken*n"
Atik : "ummm.... (sambil nendang kaki Bhismo/saya)
Sheren : "loh kenapa, kok kalian bedua langsung suram gitu.?"
Atik : "jujur jujuran aja ya, kita sekarang blak-blakan"
Bhismo : "jadi kmaren uang nya uda kita balikin, karena kita tau bill nya salah"
Sheren : "hadoo...itu loh emang sengaja di potong buat kita"
Bhismo : "ya aku kan gg tauk. Kalo aku tau ya gg bakal ta balikin"
ternyata, pada akirnya, kesimpulannya, ending dari semua ini, uang yang kita baliikan bukan kelebihan uang dari kesalahan bill , melainkan emang ada unsur kesengajaan dari salah satu waitres yang mengurangi bill kita T^T
Gubrakk.!! Denk..denk..denk..!! Sroott..csss...
"Grr..suara brisik apa itu.?", gumamku dalam hati tanpa ada misuh yang terucap dari mulut. Tenyata Itu rumah tetangga yang lagi di bangun, brisik amat. Coba saya anak ktua RT di sini. Itu ruma bakal saya bangun dalam waktu 1malam, dengan catatan pinjem jin yg ada d cerita Tangkuban Perahu :DD
Kiikuuk...kiikuuk..kik..kuk.. uda jam 3, ini jam mngingatkan klo ntar ada reunian anak2 SMP. Sebenerny saya pengeng bawa L 14 AR (jazz biru), tapi apa daya uda d pake emes duluan. Ya uda tepaksa cabut naik mobil ebes.
Perjalanan kali ini baik-baik saja, tidak ada cium tempel yang tertera pada mobil ebes. Jangankan baret, bayangan ku aja gg bakal nampak di tuh mobil. Maklum warnanya doff, bukan metalik.
Setela menempuh perjalanan tanpa tersesat, mampu memarkir mobil secara mulus tanpa keluar garis, dan ingat mengunci pintu mobil. Saya memasuki area shopping sebagaimana TP di ciptakan. Spontan saya bilang "Wedan cakk,tibakno mall'e nang kuto koyo ngene toh. Beda karo pasar maleme desoku" Dan anehnya lagi, banyak orang menertawaiku. Saya anggap itu sebagai wujud tanda WELCOME yang sering terjadi di Hawaii.Lebih tepatnya karpet WELCOME-nya terminal Joyobyo.
Hampir setibanya d food court, hp ku bebunyi. "Mok, kita gg jadi ke TP. Ank2 pd ingin nongkrong d Garlick Imam Bonjol" ,dengan santainya si Tika bilang seperti itu. Beda dengan yang ada di paragraf pertama, sekarang jurus seribu silat lidah pada keluar. Mulai dari anjink, tikus, asu, kerek, monyet, tokek, dan dinosaurus pun turut keluar. Aku mulai mual, TP serasa kebun binatang sekarang.
Singkat cerita . . . . . .
"Aloo mamenn.!!" teriakku dari lapangan parkir menyapa orang-orang yang ada di dalam. Dalam hitungan 2 detik, saya kira teman-teman yang ada akan membalas salam saya. Tapi nyatanya sunyi, kriik..krikk..krriik..
Dorrr.!! Dengan histeris saya berteriak, "aw..aww..aw..aaw..". Mirip teriakan gadis jembatan ancol yang sedang kecopetan. Gimana gg kaget coba, orang ngagetin kan biasanya nepuk pundak dan bilang dor. Tapi dia malah mukul kepala dan efek dari bertubrukannya dua benda yang keras (kepala vs tangan) menimbulkan suara DOR.
"Selamat Datang ... " sapa para waitress dengan senyum cemerlang ala PEPSODENT.
"Saya beli pancake original khas Blackbird dan ice cappucino andalan Blackbird" . Sontak banyak orang bingung akan apa yang kupilih ini, bukan bermaksud sombong karna mau beli yang termahal. Tapi saya gg bisa baca tuh daftar menu, yang geblek siapa coba.? Di aloh cuma ngasi daftar menu di meja saya, padahal saya mintanya di bacain sebagai dogeng welcome.
Stengah jam pertama berlalu, dan kita masih becanda tawa. 1 jam terlewati, dan makanan pun mulai berkurang. Stengah jam berikutya makanan habis dan minuman tinggal setengah. Kini sudah 2 jam, dan apa yang terjadi.? Nihil.... tak ada yang berkurang ataupun bertambah. Kita sengaja mempertahankan posisi ini. Genap sudah sekarang 3 jam terlewati, semua gelas dan piring bersih hingga ke sela-sela yang susah terjangkau oleh spon. "Saya suka meremas-remas". Dalam hati aku bertanya, "kenapa makan kaya gini aja lama.?" dan aku baru tahu jawabanya setelah membayar. Ternyata karena mahal, teman-teman ingin merasakannya, menikmatinya, mengincipinya, dan menghabisinya hingga titik jam Blackbird tutup.
Sepanjang jalan pulang, saya merasakan ada yang tak beres dengan bill ini. Dengan gugup saya memeriksa kembali apa yang ada di dalam 1lembar kertas pendek itu, dan hasilnya . . . . . . "kemurahen" (terlalu merah,beda dgn yg ada di menu). Waw..gimana gg senang coba klo untung hampir 50ribu. Tapi apa daya, karena saya badsicnya anak polos dan jujur. Hati nurani bergejolak untuk segera mengembalikan uang itu.
Terhitung 800m lagi lampu merah, dan saya mulai menghitung setiap garis pemisah jalan. hitungan petama untuk kembali, kedua untuk tidak, dst. CIIIITTT....saya behenti tepat di bawah lampu merah dan hasilnya tidak kembali. Tak habis akal saya berpikir, seolah mendapat petuah dari para penyebrang jalan. Saya segera mengjhitung jumlah garis zebra cross dan hasilnya ganjil. Berarti saya harus mengembalikan uang yang sesungguhnya bukan buat saya.
Sedikit lega setelah misi pengembalian uang itu sukses. Dan saya telah belajar banyak kebaikan hari ini. Rasanya hati nurani saya mulai terasah hinga mampu menusuk jantung, paru-paru, dan tenggorokan. 1 hari perasaan senang masi meliputi dan ada rasa untuk pamer, 3 hari sudah mulai terbiasa dan masi eksis pamer, dan 1 minggupun aku benar-benar lupa. Setidaknya sebelum hal itu yang menimpa saya.
2 minggu telah berlalu dan kita janjian untuk kumpul kembali, topik hari ini di buka dengan kata ..
Sheren : "ehh, tau gg tenyata kmaren itu kita dapat diskon"
Atik : "diskon ap an.?"
Sheren : "kmaren tnyata murah karena emg sengaja dikurangi harganya ma Ken*n"
Atik : "ummm.... (sambil nendang kaki Bhismo/saya)
Sheren : "loh kenapa, kok kalian bedua langsung suram gitu.?"
Atik : "jujur jujuran aja ya, kita sekarang blak-blakan"
Bhismo : "jadi kmaren uang nya uda kita balikin, karena kita tau bill nya salah"
Sheren : "hadoo...itu loh emang sengaja di potong buat kita"
Bhismo : "ya aku kan gg tauk. Kalo aku tau ya gg bakal ta balikin"
ternyata, pada akirnya, kesimpulannya, ending dari semua ini, uang yang kita baliikan bukan kelebihan uang dari kesalahan bill , melainkan emang ada unsur kesengajaan dari salah satu waitres yang mengurangi bill kita T^T
Langganan:
Komentar (Atom)