Minggu 20 Juni 2010
Dalam menjalani hidup, otak kita yang kecil ini selalu dipenuhi oleh kenangan. Mulai dari siapa ayah dan ibu kita, rasa bangga saat pertama kali bisa bersepeda, peristiwa gokil yang kita lakuin, cerita antara cinta dan monyet, serta kenangan-kenangan lain yang sejenis. Tanpa pernah ada rasa syukur, otak kita bisa menyimpan semua beban itu. Bila di ketik dalam Ms.Word bisa mencapai 28,76 gigabyte dengan catatan tanpa gambar. Sumber diperoleh dari ke-sotoy-an sang penulis. Meski terkadang ada otak yang over-capacity sehingga menyuruh orangnya menjedotkan kepala ketembok, bila berhasil dia amnesia. Kalau gagal...saatnya cari tubuh baru (*baca mati dan renkarnasi)
Tak terkecuali saya, begitu banyak kenangan tersimpan di otak. Sadar atau tidak, otak kiri saya lebih banyak untuk menyimpan kenangan. Jadi kalau dilihat dari belakang, saya selalu berjalan dengan kepala yang ambruk ke sebelah kiri. Kalau tegak, tolong periksa apakah ada cagak yang menahan kepala saya atau tidak. Kenangan yang banyak saya simpan tak lain adalah cewek. Bukan bokep, karna itu semua tersimpan dalam memory 32gb N97 saya. Sekali lagi saya tekankan bukan bokep, tapi lebih ke cerita bersama si dia, sebut saja Fina (*nama samaran)
Minggu tepat jam setengah tujuh kupacu si L14AR (*baca: si JazzBiru) menuju rumah Fina. Entah karena tak sabar ketemu saya atau emang sudah pingin nggepukin orang, si Fina sms "Lek,kamu dimana.?". Lek di sini singkatan dari ELEK, sebutan untuk kita berdua. Dengan nada stay-calm saya jawab "Sekarang saya lagi ada di ..... lagi ada di hatimu sayang". Dan ujung-ujungnya dia selalu muntah berak di kolong wewe saat kena gombalan ala Bhismo. Setibanya di rumah Fina, dia langsung ngibrit naik mobil. "Ayo lek kita jemput Ria". Ria (*nama yang disamarkan) tak lain adalah sahabat seperguruan Fina di SMAN15.
Serasa menjadi sopir, kita menuju rumah Ria. Tak sengaja saat masuk perumahannya saya bertemu dengan Raden (*ini baru nama asli) mencegat si L14AR. Terpaksa mau gg mau saya harus memungut anak orang 1lagi. Kini kita imbang, 2gadis virgin dengan 2pria yang diragukan. Di belakang ada Raden (kiri) bersama Ria (kanan), dan depan ada aku (nyetir) dan Fina (co-pilot). Tiap kali pergi Fina selalu duduk di bangku itu (depan-kiri), terakhir ia duduk tertinggalah noda yang mampu membuat satu ruangan busuk. Bukan kentut bebek ataupun jigong naga, namun muntah.. Ya muntah dari seorang gadis 17tahun ceking layaknya nenek-nenek dengan kawat di giginya, dengan harapan takada gigi yang lepas. Kini entah apa yang akan ia lakukan...
Emang karena basic saya mirip om-om hidung merah jambu, saya godain tuh si Fina. Mulai dari ilik-kitik, ketawa geje, triak-triakan, dan bahkan humor garing bisa membuat kita berdua tertawa. Contohnya:
Fina: Ehh,baunya kok enak sih. Lek kamu parfuman.?
Bismo: Wah,akirnya ada yang nyadar. Iya saya parfuman, harum kan.? Please closer to me to get the best flavour from this parfume
Fina: *sambil monyongin hidung babinya ke ketek saya* Jangan aneh-aneh kamu.!!
Bismo: *dengan sigap saya jepit kepalanya Fina di selangkangan ketek saya* Rasain nih, jepitan maut.!!
Ria: *membuka jendela* Tolong-tolong ada monster ketek menganiaya nenek-nenek.
Raden: Inalilahi Wainalilahi Rojiun, semoga Fina pergi dengan tenang tanpa bau ketek. Kasian surganya entar langsung busuk.
Malam ini kita berempat nongkrong di Loop, salah satu tempat nongkrong di Surabaya daerah Pakuwon. Karena kita bosan dengan tradisi barat, kita cari tempat yang bernuansa Timur Tengah. Sahara memiliki konsep Timur Tengah yang kental, mulai dari kebab, sisha, lagu-lagu beken seperti Jai Hoo (ost.SlumDog) dan Terajana. "Aku mau burger.!!" teriak Fina. "Kalau aku spagheti" sebut Ria. Jujur aku bertanya-tanya dalam hati. Apakah di negri pasir ada burger dan spagheti.? Jangan-jangan gado-gado pun ada... Ternyata emang beneran ada (burger dan spagheti-nya) meski penyajiannya aneh. Kedua makanan tersebut menggunakan daging kebab yang lebih mirip dengan daging sapi yang terkelupas karena kebawa umur dan tomatnya mirip potongan kue Monde Kalengan.
Jam sembilan kita sepakat pulang. Saat di jalan cowo dari si Fina ini menelpon Fina, ini ada secuplik dialog antara Fina dan cowonya
Cowonya: Lo dimana sekarang.!! *dengan nada keras*
Fina: Aku di rumah *dengan nada anak rumahan yang sudah membusuk lumutan di kamar*
Cowonya: Jangan bohong.!!
Fina: Beneran, aku di rumah. Telpon mamaku kalo gg pecaya.!
Cowonya: Oke, gue ke ruma lo skarang. Awas klo gg ada..
___tuutt..tuutt..ttuut..*putus*
___kriingg...kriiing..*ringing tone*
Fina: Apaan sih telpon lagi,kamu udah percaya.?
Cowonya: Lo di Sutos kan.!? Ni gue di depan mobil lo,cepet keluar ato gue ancurin nih mobil.!!
Fina: Terserah kalo gg pcaya.!! *meneteskan air mata*
Baru kali ini ada cewe menangis di mobil, setelah sebelumnya tentu saja ia muntah di sini. "Kenapa orang pertama yang menangis di situ bukan ceweku.!?" Pengen nangis kecewa rasanya, tapi gg lucu banget kalau sopir dan penumpang nangis bareng. Ntar takutnya dikira kita berdua lagi diculik. Dengan guyonan apa adanya si aden berucap,"Liad tuh ada jagung,ada yang mau.?". Dampak yang dihasilkan sangat fantastis, bisa membuat suara jangkrik terdengar kriik..krrik..krikk. Tak mau kalah si Ria bilang,"Sudahlah,paling juga cowomu mabuk". Saat ku menoleh, kini tampang Fina sudah lengket layaknya Monster Rawa. Muka dia penuh dengan keringat yang bercampur dengan air mata dan ingus.
Saat di depan rumah Fina sempat berucap,"Udah ya lek,makasih. Jangan kapok ngajak aku keluar." . Sebelum langkahnya makin jauh, dengan polosnya aku menyodorkan dia jari kelingking kananku dan dia menyambutnya dengan jari kelingking kanan dia. Aku bilang,"Janji ya jangan sedih lagi" tak lupa tampang imut mirip JB aku pamerkan (*JB = Jambretnya Bungurasih). Dan pada ending-nya meski menangis, tampak senyum yang indah di balik wajah Fina itu.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar