Laman

Minggu, 18 April 2010

PRIA JUGA BISA MENANGIS

12 April 2010. Di kantin sekolah.

Ketika ku tiba di kantin sekolah, aku melihat sahabatku (sebut saja Rian) sedang duduk sendiri di salah satu bangku kantin. Tak seperti biasanya ia murung. Ia tertunduk sedih seolah menangisi kisah hidupnya. Hal itu terlihat dari cara ia duduk, mulai dari pandangannya yang kosong, cara ia memegang kamera DSLR yang ada di tangannya, dan mulut yang berulang kali mengatakan bahwa impian dan takdir tak dapat disejajarkan. Ku beranikan diri untuk mendekati Rian dan menanyakan apa yang sedang ia alami. Perawakannya tinggi dan ideal, mungkin 170 cm-an dengan berat 55kg. Memiliki muka yang memanjang, mata yang menyipit bila ketawa, rambut ikal dengan potongan mohawk, dan kulit sawo matang. Tidak cakep, tapi enak untuk dipandang.

“Boleh saya duduk di sini.?” tanyaku padanya. Rian tidak memperhatikanku, bersamaan dengan itu ia mengusap air matanya dan menganggukkan kepala tanda memperbolehkanku untuk duduk satu meja dengannya. Seketika suasana menjadi hening. Meski kantin rame akan siswa-siswi yang lain, namun keramaian itu seolah tak mampu menembus tembok yang sedang mengelilingi kita. Kuberanikan diri untuk bertanya, “Kamu gg apa apa tah.?” . Ia tak menjawab pertanyaanku. Sekali lagi aku bertanya, “Bole aku membantumu.?” . Dan apa yang ia lakukan.? Ia hanya menggertakan giginya. “Maaf kalau aku ngganggu” , bilangku padanya. Dan kali ini dia memandang tajam mataku, seolah melakukan telepati yang mampu menggerakkan hati kecilku. Betapa sedihnya orang ini...

“Mok, bole crita gg.?” , dengan nada datar ia mengucapkan itu padaku. Aku Cuma bisa membalas, “Ya kalo kamu mau,crita aja. Aku ‘kan coba mendengarkan.” Tak seperti anak-anak lain yang menghabiskan waktu istirahat dengan makan dengan selingan canda-tawa. Aku dan Rian menghabiskan waktu ini hanya untuk cerita dan mendengarkan. Ia berceita dengan sungguh-sungguh. Semua apa yang ia rasakan dan ia alami pun di ceritakannya. Tak ada hal yang ditutupinya, kecuali satu, air mata . . .

Cowo juga bisa menangis, ia menangis untuk apa yang ia pegang teguh dan ia sayangi. Cowo selalu menutupi tangisannya dengan tindakan penuh emosi dan amarah. Namun bila air mata sudah mulai menetes, itu tandanya ia sedang benar-benar kehilangan sesuatu yang ia sayang.

Rabu, 7 April 2010. Si Rian mendaftar sebesar Rp 150.000,00 untuk mengikuti salah satu seminar fotografi. Ia tampak senang sekali, karena jujur ini awal seminar-nya dalam bidang fotografi. Memang fotografi terkenal mahal, tapi karena ia dilahirkan di keluarga yang mampu. Ia bisa memiliki 1 dari sekian banyak pilihan kamera. Kamera yang mungkin tak semua orang bisa membelinya. Semenjak itu ia mulai tekun berlatih, ikut hunting, dan kumpul dengan komunitas. Merasa kurang dengan itu semua, ia mulai mencoba untuk hadir dalam seminar.

¬¬Jumat, 9 April 2010. Sehari sebelum hari H (seminar) diadakan. Senyum bahagianya masi nampak melekat erat di wajahnya, namun itu semua berubah setelah ia menerima sms dari salah satu panitia Pensi bahwa besok ada rapat dari jam 08.00 – 12.00 . Sontak ia bingung dan mulai emosi, kenapa ini mendadak.? Besok ada seminar (08.30 – 15.30), di lain sisi tanggung jawab sebagai salah satu anggota Pensi juga perlu diperhatikan. Akhirnya ia berkonsultasi dengan banyak temannya, dan jadilah keputusan bahwa Rian akan mengikuti rapat terlebih dahulu baru lanjut ke acara seminar

Sabtu, 10 April 2010. Rian tiba di sekolah tepat waktu, begitu juga dengan acara rapatnya yang molor satu jam. Tepat pukul 09.00 acara di mulai, ia nampak gelisah dan pikiran akan seminar selalu menghantui otaknya. Sepanjang rapat Rian menjadi orang yang pendiam dan selalu kaget bila mendapat pertanyaan dari anggota panitia yang lain.

Meski rapat dimulai tidak sesuai dengan jadwal, namun rapat dapat bubar sesuai waktu yang ditentukan. Ia langsung menancap gas kencang-kencang ke arah ke Novotel. Kini waktu menunjukkan pukul 12.30 . Sudah tiga jam ia telat, dan entah berapa season terlewatkan. Setibanya di depan Brawijaya Room, Rian menunjukkan bukti pendaftaran kepada petugas. Dan apa yang mereka (panitia seminar) temukan.? Nama Rian tak tercantum di situ, selain itu Rian juga tak mendapatkan ID Card sesuai dengan ketentuan. Rian hanya mendapatkan bingkisan yang entah isinya apa, karena ia males untuk melihatnya. Ketika ia mulai masuk ke dalam ruangan, ia menemukan para peserta sedang poto bersama. Dan ia pun ikut dalam sesi itu, setelah itu panitia seminar mengatakan bahwa sekarang adalah jam makan siang. Jadi setibanya di sana, Rian cuma poto dan berlanjut ke ruang makan Novotel.

Jam makan siang 12.30 – 13.30 , Rian nampak tidak memiliki selera untuk makan. Ia memikirkan betapa bodohnya dia mau membuang uang 150.000 begitu saja.? Total acatra 3 sesi, dan sekarang tinggal 1 sesi lagi. Di lain sisi lain dari otaknya, ia juga memikirkan akan duduk di mana. Meski hanya sekilas melihat, namun nampak di ruangan seminar tak ada tempat duduk yang kosong untuk dia.

Jam makan siang pun berakhir, kini semua peserta telah kumpl kembali dalam Brawijaya Hall, Novotel. Rian nampak bingung mencari tempat duduk. Semua sudut ruangan telah ia perhatkan dan hasilnya NIHIL. “Dik, coba itu ada kursi kosong. Kamu tanya ada orangnya nggag” , ucap salah seorang peserta yang ada dibelakang Rian. Rian pun segera menghampirinya dan bertanya ke orang yang dekat dengan bangku kosong tersebut, “Maaf, di sini ada orangnya tidak?” . Rian sangat mengharapkan jawaban “TIDAK” , namun orang itu menjawab kalau di situ ada orangnya. Rian mencoba ke tempat lain yang nampak kosong, dan jawabannya sama. Ada orangnya.

Segala yang ia lakukan adalah tindakan percuma. Ia bela-belain datang ke seminar, namun tak bisa mengikuti salah satu dari sesi yang ada dan juga tak dapat ID card. Rian hanya mengikuti sesi foto bersama dan makan siang. Hancur sudah perasaannya, ia mencoba tuk menahan rasa sedih yang memenuhi hatinya. Ia menahan agar tak ada setetes air mata yang jatuh. Namun dalam perjalanan pulang, air mata yang terbendung akhirnya jatuh. Ia mulai meneteskan air mata. Ia meminggirkan mobilnya dan menyalakan lampu hazzard, entah apa yang ia lakukan di dalam mobil. Tak ada orang yang tahu, kalau seorang cowo (Rian) sedang menangis.

Cerita darinya telah usai, betepatan dengan itu bel skolah berbunyi. Tanda istirahat berakhir. Saat menaiki tangga sekolah, ada seorang cewe yang menghampiri kita. “Rian, kamu kemarin kan pulang cepat. Ada yang ketinggalan, nih ... “ , ucap wanita itu sembari menyerahkan amplop coklat. Saat di buka, entah kenapa Rian meneteskan air mata. Bukan air mata kesedihan, karna ia menangis sambil tersenyum. Rian mendapatkan sertifikat dari seminar kemarin. Entah apa yang Rian pikirkan, aku yakin ia sekarang sedang merasa bahagia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar